GALUH MAS (PT. GALUH CITARUM) Alamat: Jl. Galuh Mas Raya, Karawang Barat.41361.Telepon:(0267)643 388-647 377, Fax:(0267)646 955. Anda ingin tahu lebih banyak tentang kami?
Posted by cv.duta.arina.sehati@gmail.com on Selasa, 13 Oktober 2009 in
TETAP EKSIS: Para pengrajin bilik bambu bermotif di Desa Prungsari.

TELUKJAMBE, RAKA – Berawal hanya bermodalkan Rp 2 juta, ternyata usaha kerajinan membuat bilik bambu bermotif bagi Santim (38), warga Dusun Parungpung Desa Parungsari Kecamatan Telukjambe Barat, terus berkembang. Malah berkat keuletannya, sejak dua tahun lalu hingga kini ia telah mampu turut membantu menghidupi tetangganya sampai 30 orang.

“Alhamdulillah, ketekunan dan kesabaran membawa berkah. Walau belum terbilang sukses, setidaknya saya sudah bersyukur ketika usaha yang sedang digarap sekarang tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tapi juga tetangga ikut terbantu. Mereka sama-sama bisa mencari nafkah dari pengembangan kerajinan membuat bilik bambu bermotif ini,” tutur Santim yang biasa dipanggil Bos Motif.

Yang membuat ia lebih merasa bangga, hingga kini tidak pernah punya perasaan ingin bergantung pada orang atau pihak lain, termasuk kepada pemerintah sekalipun. Kemandirian merupakan kunci sukses yang harus terus dipegangnya. “Bukan berarti saya tidak butuh bantuan, seperti modal uang misalnya. Tapi kalau bantuan diperoleh hanya dari cara memaksa atau malah menjelekan pihak lain, buat apa? Yang penting usaha apapun yang dilakoni tetap merasa nyaman tanpa ada yang mengganggu,” tuturnya.

Tanpa diminta pun, yakin Santim, jika orang lain tahu apa yang diperbuatnya mampu membuahkan hasil, tidak akan pernah sulit untuk mendapatkan tambahan modal. Kalau pun sifatnya sekedar pinjaman modal. Ia menyebut misal, setahun lalu pernah dirinya ditawari bantuan modal dari Yayasan Adz-Dzikro Karawang hingga Rp 2,5 juta. Perjanjian pengembaliannya setiap bulan selama 1 tahun. Tanpa bunga tapi diminta infak Rp 250 ribu. Hanya setelah itu, tahun berikutnya tidak lagi diberikan bantuan serupa.

“Katanya sih karena ketua yayasan tersebut telah diganti. Dari pengalaman itu, akhirnya saya kurang semangat lagi berharap sama orang lain. Ada dan tidak ada modal, sekuat tenaga tetap jalan mengembangkan usaha kerajinan ini. Alhamdulillah, Allah SWT masih terus memberikan jalan terbaik. Sampai sekarang modal usaha terus berkembang hingga Rp 20 jutaan. Maklum modal kecil. Bagi saya yang terpenting terus jalan,” ucap Santim sambil tersenyum.

Ketika RAKA bertandang ke tempat kerajinannya, Minggu (11/10) sore, terlihat belasan bilik bambu bermotif hasil kerajinannya tersimpan dan tertata rapih. Semua bilik itu, menurutnya, sudah dipesan beberapa pengusaha matrial di Karawang, Cikarang, hingga Kota Bekasi. Ia hanya tinggal menunggu tambahan jumlah pesanan yang belum rampung. Setelah itu, semua pesanan diantarkannya langsung ke tempat si pemesan.

“Setiap hari per orang bisa menyelesaikan 1 lembar bilik motif dan 1 lembar bilik biasa. Ukuran yang dipesan, rata-rata 2 X 3 meter persegi. Harga relatif murah. Di sini kita jual Rp 30 ribu per meter. Terus terang saya tidak terlalu besar ngambil untung. Biar sedikit yang penting ngalir (terus menerus -red) lakunya. Kelebihan lain diperoleh dari sisa daging bambu. Ini tetap dapat dimanfaatkan untuk dibuatkan bilik biasa. Sebab bilik motif hanya butuh kulit bambunya saja. Itu pun bambu hitam,” papar Santim.

Bahan baku, ia peroleh langsung dari daerah Loji di Kecamatan Tegalwaru. Bila sedang mepet belum dapat pasokan, biasanya kiriman didapat dari Bogor. “Sekali beli bambu hitam sampai 800 batang. Segitu juga lumayan harganya sampai Rp 5 juta. Biasanya 2 minggu habis. Makanya kalau sedang butuh pasokan di Loji lagi minim, kita langsung dapat kiriman dari Bogor. Di sini juga banyak bambu, hanya kualitasnya lebih bagus bambu Loji atau Bogor,” tuturnya lagi.

Sebagai pengrajin bambu, ia tidak hanya sekedar membuat bilik bermotif, tapi juga kursi, meja, hingga siap pula membikinkan saung kecil jika ada pesanan khusus. Semua bahan tetap dari bambu. Yang menarik, sejak beberapa bulan terakhir, Santim sering mendapatkan bimbingan cara mengembangkan usahanya melalui radio komunitas PPK-IPM, 107,7 Koncara FM yang bermarkas di Dusun Pangasinan Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Barat.

“Saya memang bergabung menjadi bagian dari komunitas radio itu. Ternyata banyak manfaat bisa saya peroleh. Pengetahuan bertambah, persaudaraan makin luas, dan yang lebih saya rasakan adanya kesadaran bagaimana hidup berbangsa dan bernegara. Ketika orang banyak menuntut hak terhadap negara, nyatanya ada yang sering dilupakan. Yakni, bagaimana kwajiban yang harus dikedepankan. Ini saya peroleh di komunitas Koncara FM,” celoteh Santim lagi. (vins)
0 Responses to “Pengrajin Bilik Bambu Bermotif di Telukjambe Barat , Bertahan dari Keyakinan Untuk Mandiri”:

Posting Komentar